Hari Ini:

Selasa 19 Nov 2019

Jam Buka Toko:

Jam 07.30 s/d 19.30 WIB

Telpon:

08121004704

SMS/Whatsapp:

08121004704

Line ID:

@xpv5854b

BB Messenger:

D9A4BC16

Email:

finoura.fashion@gmail.com

Temukan kami di

Pembayaran Melalui

Rek : 8940154261
An. Nur Mursidi
Rek : 1290011604499
An. Nur Mursidi
Rek : 0214626333
An. Nur Mursidi
Rek : 044201028864509
An. Nur Mursidi
Rek : 08121004704
An. Nur Mursidi

Jualan di Marketplace (2)

17 July 2017 - Kategori Blog

Satu tahun yang lalu, setelah aku kekeh atau alergi jualan di marketplace, aku akhirnya dibuat bangun dari tidur panjang yang melenakan. Saat itu, kondisi ekonomi lagi mengalami masa paceklik. Hampir sebagian temanku yang berkecimpung di dunia bisnis mengeluh sepi dan mengalami penurunan omzet yang drastis. Setali tiga uang, bisnis fashion yang aku bangun pun merosot tajam. Omzet melorot 25-50 persen.

Kondisi yang pelik itu membuatku sejenak berpikir. Apa semua ini karena kondisi ekonomi, atau semata-mata karena kesalahanku? Tentu, aku tidak bisa mengambil kesimpulan tanpa melakukan evaluasi dan riset lebih dulu. Akhirnya, beberapa hari aku semedi untuk melakukan survey pasar. Tujuan di balik survey tersebut adalah untuk menemukan penyakit yang menghinggapi bisnisku, dan langkah apa yang harus aku ambil dalam menyembuhkan penyakit yang merundung bisnisku tersebut.

Setelah aku melakukan survey, akhirnya aku menemukan beberapa hal yang membuatku harus berbenah jika tak ingin bisnis fashion yang aku bangun kian terpuruk dan ambruk. Pertama, zaman telah bergerak dengan cepat, dan dunia bisnis fashion online seperti diseret pada arus besar teknologi yang –mau tidak mau– harus diikuti. Saat itu, aku masih memakai Blackberry sebagai satu-satunya toko jualan. Padahal, perkembangan zaman telah berubah. Kompetitorku sudah berganti android, mulai memasarkan barang via instagram (yang ini tidak dapat diikuti oleh Blackberry), dan bahkan ada yang mengembangkan jualan tidak hanya lewat toko online, tetapi sudah berkembang menjadi toko berbentuk aplikasi. Dari sini, aku kalah 1-0.

Kedua, para kompetitorku yang semula bermadzhab sepertiku yang hanya mengandalkan blackberry sebagai satu-satunya toko jualan rupanya sudah berbondong-bondong jualan di marketplace. Alasan di balik hijrahnya para kompetitorku itu tidak lain karena di beberapa marketplace ada subsidi ongkos kirim yang membuat pembeli dimanjakan. Siapa pembeli yang tak mau gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia? Jadilah, pembeli berbondong-bondong beli di marketplace. Bahkan, di marketplace, seperti shopee memberi subsidi gratis hingga 80 ribu (untuk pembelian barang di atas 200 ribu beberapa bulan yang lalu saat aku awal membuka toko di shopee). Aku kalah lagi; total kekalahanku menjadi 2-0.

Ketiga, distributor atau suplier sepertiku semakin tahun kian bertambah. Jadi, pesaingan bisnis menjadi semakin ketat. Harga pun kemudian saling banting. Selama ini aku tutup mata, dan tak mau tahu. Setelah aku membuka mata, aku baru sadar dan melek dunia kompetisi bisnis. Tetapi, dalam hal ini aku terlambat tahu. Aku kalah lagi; total kekalahanku menjadi 3-0.

Tiga kekalahan itu, kemudian membuatku mengambil langkah cepat. Ibarat tubuh yang sudah digegori penyakit, obat harus segera diminum agar tak mati sekarat. Untuk membenahi penyakit pertama, aku akhirnya membeli android. Aku membuat toko di instagram, dan mulai ancang-ancang membuat toko bentuk aplikasi. Bahkan, android milik anakku yang biasanya cuma dipakai main game, mau tidak mau, harus aku pinjam ketika aku butuhkan.

Selain berubah ikut perkembangan zaman, aku pun taubat; akhirnya membuka toko di marketplace. Barang-barang yang menumpuk pun akhirnya terjual di toko marketplace karena pembeli dapat subsidi ongkos kirim. Keuntungan lain, barang lama yang tidak laku dan bahkan pernah aku obral di toko blackberry tidak ada yang mengendus, justru malah laku dengan harga tinggi di toko shope atau tokopedia. Dari situ, aku kemudian mendapat pengalaman baru; jika sudah jualan di satu lapak tak laku, juallah di lapak lain. Bukalah lapak sebanyak-banyaknya! Karena, dengan semakin banyak lapak, semakin besar peluang untuk laku.

Adapun untuk langkah ketiga, dengan banyaknya kompetitor, aku justru seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Ini berarti sudah saatnya untuk naik kelas; menjadi produsen. Kompetitor-kompetitorku itu kelak adalah pangsa pasar jika aku memproduksi baju sendiri. Dalam sekolah, ada kenaikan kelas. Dalam bisnis pun, juga ada episode untuk berkembang, maju, dan tumbuh. Jadi, buka mata lebar-lebar jika selama ini tertidur pulas. Bisnis adalah “lempengan” uang yang diseret oleh perubahan zaman. Kalau tak mengikuti perkembangan zaman, bisnis yang kau bangun pasti akan ambruk.

Dulu, saat aku masih kecil, ayahku sudah memiliki konveksi. Saat itu, ayahku lebih banyak memproduksi celaka komprang petani karena memang dipasarkan di pelosok-pelosok kampung. Tapi, zaman telah berubah dan ayahku tidak mengikuti perkembangan zaman. Sampai aku lulus SMA, ayahku masih memproduksi celana pendek petani. Padahal, petani-petani tua sudah renta dan generasi baru pun menggantikan generasi lama. Petani generasi baru pun mengikuti trend celana yang dipakai ke sawah, dan pemuda desa banyak yang merantau ke kota. Lambat laun bisnis ayahku ambruk, karena tidak mengikuti perkembangan zaman. Dari situ, aku harus bisa mengaca pada sejarah, dan melakukan koreksi terhadap bisnis fashion yang aku bangun. Aku harus melek perkembangan zaman.

Dulu, orang tidak terpikir naik ojek tinggal pencet android dan driver gojek tiba di depan rumah lalu siap untuk mengantar ke mana pun kau pergi. Bisnis fashion yang tidak mengikuti zaman pun akan tergilas, seperti ojek pangkalan yang tergilas go-jek, grabike, dan uber. Itulah kenapa besok aku memutuskan membuang blackberry-ku, dan memutuskan membeli android yang baru! He he he.