Hari Ini:

Selasa 19 Nov 2019

Jam Buka Toko:

Jam 07.30 s/d 19.30 WIB

Telpon:

08121004704

SMS/Whatsapp:

08121004704

Line ID:

@xpv5854b

BB Messenger:

D9A4BC16

Email:

finoura.fashion@gmail.com

Temukan kami di

Pembayaran Melalui

Rek : 8940154261
An. Nur Mursidi
Rek : 1290011604499
An. Nur Mursidi
Rek : 0214626333
An. Nur Mursidi
Rek : 044201028864509
An. Nur Mursidi
Rek : 08121004704
An. Nur Mursidi

Jualan di Marketplace (1)

17 July 2017 - Kategori Blog

Dulu, aku benar-benar antipati -atau bahasa halusnya alergi- jualan di marketplace seperti bukalapak, tokopedia, shopee, atau lapak sejenis. Beberapa pemain online shop yang aku kenal (karena seringnya bertemu di kantor pos atau JNE waktu pengiriman) seringkali menyarankanku untuk jualan di marketplace, tetapi aku tetap menjawab “TIDAK”. Sebab, bagiku, jualan di marketplace seperti itu membuat uangku mandek, tidak bisa diputar (dalam waktu tertentu) dan hal itu –tentu– sedikit merepotkanku.

Kenapa bisa merepotkanku? Bukankah justru hal itu menguntungkanku sebab aku tak perlu beli domain yang harus aku bayar setiap tahun untuk toko onlineku? Bukan, sekali lagi, bukan di situ yang kukeluhkan. Tetapi, pada sistem pencairan dana. Jadi, lebih jelasnya akan aku kasih gambaran singkat. Setelah aku membuka toko di marketplace, seperti tokopedia, misalnya, lalu ada yang beli barangku via tokopedia, aku tidak menerima langsung uang tersebut (dari pembeli).

Uang tersebut oleh pembeli ditransfer ke rekening bersama (tokopedia). Lalu aku diminta oleh tokopedia untuk mengirim barang. Jika barang yang aku kirim itu sudah sampai ke tangan pembeli, dan pembeli tidak komplain, baru tokopedia mencairkan danaku. JIka kebetulan yang beli itu tinggal di Jakarta, dalam satu atau dua hari, uang bisa cair. Lalu, bagaimana jika pembeli itu tinggal di pelosok Papua? Bisa butuh waktu seminggu barangku sampai dan seminggu itu pula uangku baru bisa cair. Ini yang aku tidak mau –sebab uangku akan mandek selama seminggu.

Jadi, alasan itulah yang membuatku tidak mau membuka toko di marketplace. Banyak pemilik online shope yang kukenal heran dan bertanya ketika aku menjawab tidak jualan di tokopedia, bukalapak, shopee, atau lapak sejenis. Mereka kemudian bertanya: apa aku punya toko ofline di PGC (PUsat Grosir Cilitan)? Aku menggelengkan kepala, dan mereka tambah bingung. Lantas, mereka pun bertanya lagi: di mana aku jualan? Aku jawab cuma di smartphone (blackberry).

Jawabanku itu membuat mereka lagi-lagi bengong, dan melongo. Sebab mereka tahu jumlah paket yang aku kirim. Sebab ketika para pemilik online shop sama-sama mengirim barang kerap bertemu di kantor pos atau JNE. Mereka tahu seberapa banyak barang yang dikirim online shop lain. Dan paket barang yang aku kirim setiap hari, kerapkali menjadi “juara”. Kadang sehari satu karung, bahkan pada bulan puasa sempat mencapai empat karung paket yang aku kirim dalam satu hari itu. Karena prestasiku yang kerap mengukir juara itu, agen JNE dekat rumahku memberiku keistimewaan. Saat pekerja JNE sudah capek, dan hampir tutup, di pintu depan ruko JNE langsung dipasang papan pengumuman TUTUP (ClOSED). Tapi ketika aku datang, tetap saja diterima. Aku tahu tidak sedikit online shope lain yang iri. Sebab, aku diperlakukan seperti raja. Bahkan yang kerapkali membuatku terpingkal-pingkal, pekerja JNE memanggilku dengan sebutan Om.

Pasar kadang bisa sepi, kadang ramai. Ketika aku datang ke JNE cuma membawa seplastik paket yang isinya sepuluh, pekerja JNE dengan lemas berkomentar, “tumben sedikit sekali. Lagi sepi ya Om?” Kebetulan, ada salah satu pekerja JNE yang juga jualan online onderdil sepeda motor. Selama ini dia memendam rasa penasaran dengan sistem pemasaranku. Hingga akhirnya, sambil dia menginput data alamat paketku dia bertanya bagaimana aku menjual baju yang hanya di smartphone, tetapi mampu menjual cukup fantastis.

Aku ini memang tak pelit berbagi. Jadi, akhirnya aku bercerita tentang dapur penjualanku. Aku ceritakan bahwa toko online-ku memang cuma Blackberry. “Tetapi, di dalam Blackberry-ku ini ada 100-125 reseler yang mendukung penjualanku. Jadi, ketika aku memiliki barang baru keluar dari produsen, aku tinggal share foto di groups. Reseler-reselerku itulah yang kemudian menjual barang-barangku. Aku tinggal mencatat pesanan yang masuk. Satu jam kemudian, atau bahkan sepuluh menit kemudian, ada barang baru lagi keluar dari produsen. Reseler-reselerku itu kembali menjual barang-barangku. Jika pasar ramai, para pemilik butik yang ada di groupsku saling berebut. Jadi, wajar jika penjualanku bisa melampaui pemilik toko online di marketplace karena aku dibantu oleh 100-125 reselerku yang tergabung di groups Blackberry-ku.”

Untungku memang tidak banyak, lantaran harus dibagi dua dengan reselerku. Tapi, secara kuantitas aku bisa menjual jauh lebih banyak karena di belakangku ada pasukan banyak atau time marketing yang berjumlah seratusan tersebut. Itulah rahasia di balik toko onlineku. Jadi, kenapa aku tak mau jualan di marketplace seperti tokopedia, bukalapak, shopee atau lapak yang lain? Hal itu akan membuat perputaran uangku mandek. Sebab dalam bisnis fashion perputaran model baju-baju baru cukup cepat, dan bahkan dalam hitungan jam sudah ganti. Jika dalam hitungan jam barangku tidak laku, aku bisa gigit jari!!!

Jika sharing pengalaman bisnisku ini aku teruskan, tentu bisa sampai Subuh masih belum tamat. Jadi, sharing bisnis aku tutup di sini, besok aku lanjutkan lagi. Besok aku lanjutkan lagi, mengapa pada akhirnya aku membuka toko online di marketplace –seperti tokopedia, bukalapak dan shopee? Padahal dulu aku antipati dan alergi. Kenapa aku akhirnya jebol pendirian dan kalah?

Tunggu ceritaku pada tulisan berikutnya: Jualan di Marketplace (2)! Soalnya, saat ini perutku lapar, dan aku butuh “mengisi” perut dulu di warung pecel, di depan Plaza Kramat Jati. Sebab, nasi pecelnya enak, dan setiap habis makan nasi pecel di situ, inspirasi menulisku –entah kenapa– bisa berkobar-kobar.